Menjelang usianya yang ke 40 tahun, Muhammad SAW sering menyendiri dan berkhalawat di goa Hira, yaitu goa yang berada di gunung yang terletak di dekat Mekkah. Disanalah beliau menghabiskan waktunya selama berhari – hari dan bermalam – malam. Pada malam ke duapuluh Ramadhan, yaitu ketika beliau berada di goa hira dan telah berusia 40 tahun, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan berkata kepadanya :
Bacalah
Beliau Menjawab
Saya tidak bisa membaca
Jibril mengulangi perintah ini untuk keduakalinya dan ketigakalinya. Dan pada yang ketigakalinya, Jibril berkata kepadanya :

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan* Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah* Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha Pemurah* Yang Mengajar manusia dengan perantaraan kalam* Dia tidak mengajar kepada manusia yang tidak diketahuinya (QS. al-Alaq : 1-5)
Read more…
Pada suatu hari, ketika itu Nabi Muhammad SAW mendekati usia empat tahun, tepatnya disaat beliau bersama putra Halimah bermain jauh dari perkemahan. Maka datanglah putra Halimah sambil berlari, sedang pada raut mukanya terlihat tanda-tanda kecemasan. Ia meminta agar Halimah menyusul saudaranya Muhammad, lalu Halimah pun menanyakan tentang permasalahnnya. Kemudian anak itu berkata :
Sungguh saya melihat dua orang laki-laki berpakaian putih, mereka mengambil Muhammad dari kami dan menelentangkannya, lalu mereka membelah dadanya.
Dan anak ini sebelum melanjutkan ceritanya, Halimah berlari menghampiri Muhammad. Dia melihat Muhammad berdiri ditempatnya tanpa bergerak, wajahnya terlihat kekuning-kuningan dan pucat, lalu dengan rasa takut dan cemas Halimah menanyakan tentang apa yang menimpanya. Lalu Muhammad memberitahukan bahwasannya dia dalam keadaan baik, dan menceritakan bahwa ada dua orang laki-laki berpakaian putih yang mengambilnya, membelah dadanya untuk mengeluarkan hatinya, lalu mengeluarkan segumpal darah hitam darinya, lalu membuangnya. Lalu mencuci hatinya dengan air dingin dan mengembalikannya kedalam rongga tubuh untuk kemudian mengusap dadanya. Setelah itu mereka meninggalkan tempat dan menghilang.
Read more…
Ringkasan kisah pasukan gajah adalah ketika Abrahah al-Habsyi gubernur Yaman melihat bangsa Arab berbondong- bondong ke Mekkah untuk menunaikan Haji. Maka ia membangun Gereja besar di Shan’a dan ia ingin mengalihkan bangsa Arab untuk menunaikan ibadah haji disana. Hal ini didengar oleh seorang dari Bani Kinanah, salah satu suku Arab, lalu ia memasuki gereja tersebut dan melumuri temboknya dengan kotoran.
Read more…
Suku Quraisy ketika itu membanggakan abdul Mutthalib, kakek Rasulullah SAW dengan keturunan dan kekayaannya. Ketika itu, Abdul Mutthalib bernazar seandainya Allah memberikannya sepuluh anak laki-laki, maka ia akan menyembelih seseorang dari mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Keinginan itu terpenuhi, ia dikaruniai sepuluh orang anak laki-laki yang salah satunya Abdullah, ayahanda Rasulullah SAW. Tatkala Abdul Mutthalib hendak melaksanakan nazarnya, orang-orang menghadangnya untuk mencegahnya agar tidak menjadi tradisi bagi mereka. Setelah itu mereka bersepakat untuk mengundi nasib (dengan anak panah) antara Abdullah dan sepuluh ekor unta sebagai tebusannya. Kemudian mereka menambah jumlah unta ketika anak panahundian berpihak kepada Abdullah, lalu mereka melakukan undian lagi dan anak panah selalu mengarah ke Abdullah hingga kesepuluh kalinya. Sampai akhirnya anak panah tersebut berpihak kepada unta yang telah mencapai 100 ekor. Akhirnya merekapun menyembelih unta.
Read more…
Animisme (menyembah berhala) adalah agama mayoritas bangsa Arab, dan karena mereka menganut faham animisme yang bertentangan dengan agama yang lurus ini, maka masa kehidupan mereka dinamakan masa jahiliyah. Sesembahan mereka selain Allah yang paling terkenal adalah Latta, Uzzah, Manat, dan Hubal. Namun, ada juga bangsa Arab yang memeluk agama Yahudi, Nasrani dan Majusi. Dan hanya beberapa individu yang jumlahnya sedikit yang masih berpegang teguh pada agama Hanif, agama Nabi Ibrahim.
Read more…